Rabu, 03 Oktober 2018

Analisis Unsur Fisik dan Unsur Batin Puisi Penerimaan Karya Chairil Anwar


PENERIMAAN
Karya Chairil Anwar


Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cerminanku enggan berbagi

Analisis :

1. Struktur Fisik Puisi
A. Diksi (pilihan kata)
Dalam puisi “Penerimaan” terdapat beberapa pilihan kata yang digunakan oleh pengarang. Kata-kata yang digunakan pengarang mudah dipahami dan menggunakan makna sebenarnya seperti pada bait 1, yaitu:
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
B. Imaji
Pengimajian yang digunakan pengarang terdapat pada:
a. Indera penglihatan seperti pada bait 1 yaitu
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Dijelaskan bahwa kita bisa melihat bahwa ia masih sendiri dan belum ada yang menemani seperti kekasihnya menemani dahulu.
b. Indera perasaan terlihat pada kalimat
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Bahwa pengarang merasakan adanya perubahan yang terjadi pada kekasihnya dahulu karena sikapnya sudah tidak sama seperti saat bersamanya.
C. Rima (pengulangan bunyi)
Pada puisi “Penerimaan” rima terdapat pada semua bait yaitu pengulangan pada bunyi (i) pada kalimat terakhir.
Kemudian pengulangan kalimat pada bait 1 dan bait 4, yaitu pada kalimat
Kalau kau mau kuterima kau kembali dan
Kalau kau mau kuterima kembali
D. Bahasa Figuratif (Majas)
Majas yang digunakan adalah majas asosiasi (perumpamaan) yang membandingkan sesuatu dengan keadaan lainnya karena persamaan sifat. Terlihat pada kata “Bak”.
E. Tipografi
Bentuk yang khas pada puisi “Penerimaan” ini menggunakan tipografi zigzag

2. Struktur Batin Puisi
A. Tema
Dalam puisi ini, penyair mengangkat tema percintaan. Yaitu tentang seorang lelaki yang masih memberi harapan pada perempuan yang dulu pernah memiliki hubungan khusus dengannya.
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Sang lelaki menyadari bahwa perempuan yang masih ia beri kesempatan kembali itu sudah tak sendiri. Maka ia ingin perempuan itu memutuskan keputusan secara tegas
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cerminanku enggan berbagi
B. Rasa
Dalam hal ini, penyair merasakan sangat berharap dengan sedikit kecemasan bahwa sang mantan kekasih akan berpikir dan menimbang penawarannya dengan matang hingga ia akan kembali padanya.
C. Nada
Pada puisi penerimaan ini, penyair menuangkan perasaan harap-harap cemas dan ketegasan. Pengharapan yang ia rasakan dikarenakan pada dasarnya ia masih mencintai perempuan yang dimaksud. Logikanya adalah mana mungkin ia kembali memberikan kesempatan pada perempuan tersebut untuk kembali bila ia tidak mencintainya. Kemudian ketegasan adalah supaya perempuan tersebut memilih dengan tegas untuk kembali padanya atau terus bersama yang lain.
D. Amanat
1. Penyair berpesan agar perempuan itu mempertimbangkan penawaran penyair dan memutuskan dengan tegas keputusan yang akan ia ambil,
2. Penyair mengabarkan kepada seluruh pembaca bahwa sosok penyair adalah sosok yang benci pada hal yang setengah-setengah. Penyair ingin mengabarkan pada setiap pembaca bahwa dirinya adalah sosok yang tegas dan menyukai ketegasan.

Rabu, 26 September 2018

Mengenang Masa Laluku


Saya bernama Dwi Winarni yang pada tahun 2018 ini merupakan mahasiswa aktif semester 7 di Universitas PGRI Semarang. Sedikit bercerita mengenai kehidupan saya yang membosankan dari yang belum memahami apapun hingga memiliki sedikit pemahaman mengenai hidup.
Nama yang diberikan oleh orangtua dari pasangan bapak Sudiyono dan ibu Mukrimah ini masih kurang saya mengerti artinya. Yang jelas untuk nama “Dwi” sudah pasti merupakan anak yang kedua. Iya tetapi saya merupakan anak ketiga dari ayah saya. Saya memiliki dua kakak laki-laki yang bernama Agus Hartoyo dan Agus Puryanto. Mereka bukan kembar, usia mereka terpaut hampir sepuluh tahun sedang usia saya dari kakak kedua saya terpaut dua tahun. Saya lahir di Semarang pada tanggal 14 Januari 1997.
Saya merupakan anak perempuan yang semasa kecil memiliki pengalaman yang orang lain saat ini beranggapan itu hal yang menyedihkan. But, I am strong. Saya menganggap bahwa itu pengalaman masa lalu, dan saat ini tujuan saya hidup adalah melihat masa depan dengan senyuman dan tawa karena masih bisa melihat orang lain di sekeliling kita merasa bahagia berada didekat kita.
Saat usia 6 tahun saya mulai bersekolah di TK Budi Mulia dan aktif pada kegiatan tari kreasi anak. Beranjak ke pendidikan Sekolah Dasar saya lebih fokus pada kegiatan olahraga lari hingga ikut ajang perlombaan, menjadi petugas upacara, dan aktif berenang serta ikut kompetisi ilmu pengetahuan namun hasil akhir tidak menentukan apa yang sesuai harapan saya. Selama enam tahun saya di SD Negeri Sembungharjo 01 akhirnya tahun 2009 saya lulus dan masuk ke jenjang yang lebih tinggi yaitu di SMP Negeri 20 Filial Semarang saya bersekolah. Disana saya aktif menjadi petugas upacara setiap tahunnya. Selama tiga tahun saya bersekolah hal yang paling saya ingat adalah mengalami kecelakaan jalan raya saat kelas 3. pada tahun ketiga setelahnya yaitu 2012 saya lulus dan masuk di sekolah menengah atas. Saat itu saya bingung menentukan pilihan sekolah dan terpaksa memilih MAN 1 Semarang sebagai pilihan terakhir bagi saya, beberapa saat saya di sana keterpaksaan itu mulai menghilang karena banyaknya teman yang saling mendukung satu sama lain meski ada beberapa teman yang tidak menyukai saya. Tetapi saya merasa sedikit sombong (hehe) karena banyak yang mengenal saya tetapi saya sendiri tidak mengenal mereka. Di sekolah itu kegiatan pramuka dan silat menjadi pilihan untuk mengeksplor hobi dan kemampuan saya. Namun hal yang pernah saya alami terjadi lagi karena saat kelas 11 saya mengalami kecelakaan yang membuat kepala saya terbentur aspal hingga kaca helm pecah. Dampak yang terjadi adalah telinga sebelah kiri saya sering nginggg dan kepala terasa pusing. Sedikit pesan dari saya, berhati-hatilah saat berkendara sendiri maupun bersama orang lain. Gunakan selalu pengaman kepala.
Tahun 2015 saya lulus dengan nilai yang cukup membanggakan bagi saya dan keluarga dan melanjutkan perguruan tinggi swasta di Semarang yaitu Universitas PGRI Semarang program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Cukup pengalaman yang saya dapatkan saat mengikuti kegiatan organisasi Himpunan Mahasiswa selama dua periode itu. Saat ini saya sudah di semester tua yaitu semester 7 dan sudah mulai sibuk dengan pengerjaan judu, proposal, dan skripsi. Semoga yang saya doakan terwujud hingga mendapat gelar yang pantas sesuai impian saya, mendapat pekerjaan, mengikuti relawan guru di pedalaman sana, dan lanjut sekolah lagi karena bagi saya ilmu merupakan sebuah derajat bagi kita karena kita mengetahui dari apa yang sebelumnya tidak kita ketahui, lalu menikah dan hidup bersama keluarga yang harmonis. Amiin.
Itu sekilas kisah mengenai kehidupan pribadi saya. Terima kasih bagi kalian yang menyempatkan waktu untuk membaca tulisan saya ini. Salam kenal.

Rabu, 29 Juni 2016

Datang untuk melepas

Hati dan jiwa tekadang memang berbeda
Ketika hendak menggapai hati?
jiwa ini tersungkur di lembah murka
Bila jiwa yang hendak digapai?
hati berkata seolah enggan

          Mata ini melihat dengan jelas
          Nampak di sana sebuah penolakan
          Disisi lain datanglah penenang hati
          yang dirasa hati ingin mengusir
          Kosong, Kosong, dan Murka
          Kosong karena yang dinanti tak sudi singgah
          Kosong karena yang hadir enggan bersama
          Murka karena tak sanggup melepas dan menerima



Dwi Winarni
Kamis, 19 Mei 2016

Rabu, 16 Desember 2015

Opini suatu berita : Tontonan Televisi


Nama : Dwi Winarni
Kelas : 1-D
NPM : 15410148


Dari berbagai banyaknya media yang bermunculan, televisi merupakan sarana yang paling mudah dijangkau oleh kalangan masyarakat. Bukan hanya tampilan modelnya saja yang menarik, namun beragam sarana hiburan dapat ditonton oleh semua kalangan, tidak hanya bagi anak-anak saja, tetapi remaja, dewasa, bahkan orangtua pun dapat menikmati hiburan yang ada. Dengan adanya televisi, maka seolah-olah dunia sedang menari-nari di depan mata yang dapat kita nikmati kapanpun kita ingin menontonnya.
Dahulunya, televisi hanya digunakan sebagai media informasi dan hiburan. Namun dengan seiring berjalannya waktu, perkembangan media penyiaran semakin melejit, tidak hanya ada satu ataupun dua stasiun televisi saja yang ditayangkan, namun kini sudah ada belasan bahkan puluhan stasiun televisi yang sudah terpancar di seluruh pelosok nusantara yang dapat kita nikmati acaranya. Maka tak diherankan lagi, persaingan untuk mempopulerkan dari masing-masing pihak stasiun televisi semakin ketat, aturan perundangan kini tak lagi diindahkan. Masing-masing pihak hanya mementingkan kepentingan bisnis dan melupakan esensi penting dari penyiaran itu sendiri.
Realita yang kita hadapi kini, penyiaran televisi tidaklah seperti yang seharusnya di tuju, melainkan bertentangan dengan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Naif, semua keagresifan dari stasiun televisi tersebut dijadikan panutan. Televisi yang seharusnya menjadi pengusung adab-adab yang berkembang di masyarakat malah berlaku kebalikannya dan justru merusak adab-adab yang sudah ada dari sebelumnya.

Bagi orang yang memiliki tingkat kematangan dalam berfikir, justru akan lebih mampu memilah dan membedakan mana yang harus diambil dan dibuang. Ia akan lebih cepat memilah dari channel apa yang akan dipilih, tayangan apa yang akan ditonton, hingga nilai-nilai kehidupan yang layak dijadikan panutan. Sayangnya, penonton dengan kualitas seperti ini sangat jarang, dan bisa jadi mungkin hanya menempati bilangan minoritas dari keseluruhan penduduk di Indonesia. Maka efek dari itu semua, di era ini bermuncullah kasus-kasus yang tidak terbayangkan. Anak SMP loncat dari lantai mall yang paling atas pasca putus cinta, siswa SMA melakukan aborsi, tawuran, pesta narkoba, pembangkangan terhadap orang tua, tindakan kriminal, dan masih banyak lagi.
Selanjutnya, tentang pelarangan dan pembatasan seksualitas. Faktanya, banyak stasiun televisi yang membenarkannya. Dimana lagi pelaku-pelaku pornografi akan eksis dan dilihat khalayak selain di televisi?. Penampilan seronok, adegan-adegan mesum, perselingkuhan, disajikan kapan saja tanpa memikirkan siapa saja penontonnya, bisa saja anak-anak juga menjadi penonton tayangan yang tidak bermoral tersebut. Ketika mendapat kritik dari pihak yang merasa terganggu dengan tingkah mereka, dengan tanpa malu mereka berdalih “ini hak asasi”.
Kemudian lagi, muncul sebuah acara yang meniru reality show televisi di Amerika Serikat. Sejumlah pria  lajang dikumpulkan, dengan berbagai kelebihan yang ia miliki, ia berusaha menjelaskan tentang siapa dirinya di hadapan sekian wanita lajang yang berpenampilan seksi, menggoda, dan siap berlabuh di pelukan pria tersebut dengan satu alasan “cocok”. Acara seperti ini banyak mengundang perhatian kalangan masyarakat, ditepuki, diapresiasi. Padahal sesungguhnya reality show ini tidak lebih dari bertransaksi diri, pembenaran gaya hidup materialistis dan hedonis. Ini sangat bertentangan dengan budaya yang sudah ada di Indonesia.

Lebih dari itu, televisi dengan begitu banyaknya rangkaian acara dan pemberitaannya, dia sudah mengobrak-abrik nilai-nilai moral dan nilai-nilai kehidupan. Moralitas bangsa sudah tak di pedulikan lagi. Mengapresiasi sikap hidup yang kurang tepat, misalnya pernikahan beda agama, pernikahan sesama jenis, hamil di luar nikah, dan lain sebagainya. Padahal inilah yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat..
Atas nama “menarik”. Banyak stasiun televisi yang tidak sungkan menjatuhkan sosok tertentu yang dianggap menguntungkan bagi bisnisnya jika aib orang tersebut diumbar dan dipublikasikan di masyarakat umum sekitar. Televisi dengan tingkat seperti itu seperti bebas leluasa menaikkan atau menurunkan kedudukan atau harkat dan martabat seseorang dengan begitu mudahnya. Terlepas dari siapa saja tangan-tangan jail tak bertanggung jawab yang tersembunyi untuk mengendalikan sebuah penyiaran televisi, maka sudah sepantasnya bagi kita untuk menjadi sebuah bangsa yang cerdas dan mencerdaskan. Kaum akademisi tak patut berlama-lama di depan televisi, tertawa-tawa, bahkan hingga mengidolakan mereka yang sudah sangat jelas merusak peradaban bangsa ini. Kita wajib untuk mengajak orang-orang di sekitar kita untuk mengganti aktivitas menonton televisi dengan kegiatan yang lebih positif lagi, misalnya dengan membaca, berdiskusi dengan teman, menulis, dan aktivitas bermanfaat lainnya. Selain itu, kepada lembaga yang bertugas mengawasi program penyiaran diharapkan untuk bekerja dengan semestinya. Bukannya malah menjadi parasit bagi negeri ini.