Ada lima tokoh dalam adegan, ketiga tokoh saling bergantian menutup mata
dan yang lainnya menjadi patung yang tertutupi oleh penutup plastik.
Salah seorang wanita berperan sebagai ibu, ia memegang sapu dan
memukul-mukulkan sapu tersebut pada sebuah kotak yang terdapat di panggung.
Keempat pemain lainnya
menggunakan jubah bermotif warna-warni yang kemudian asyik bermain-main,
sedangkan wanita yang memegang sapu hanya duduk membelakanginya. Wanita itu
berdiri lalu mondar-mandir sambil memegang tali dan berbicara padanya layaknya
berbicara terhadap orang. Wanita itu kebingungan sambil mengepal-ngepalkan
tangannya.
Keempat pemain bermain-main, mereka bermain loncat tali, kemudian si wanita
berjalan mendekati mereka dan diam termenung sambil berdiri, mereka kemudian
mengitari wanita tersebut sambil berteriak berucap yang membuat wanita itu
semakin gelisah dan menutup telinganya.
Ada seorang pria yang berjalan membelakangi tokoh lain sambil memegang
sebuah koper, dan kedua pemain lainnya,ada pula lelaki dan wanita yang sedang
bergandengan tangan sambil berjalan membelakangi penonton. Si wanita tadi
berlutut dan tangannya diikat oleh tangan pemain lain yang menggunakan jubah
warna-warni.
Lelaki yang berjalan bersama perempuan itu kemudian menuju sebuah pose
berbentuk tubuh seseorang sambil memeluk pose tersebut, si perempuan tadi
berdiri diatas kotak sambil memerankan peran bahwa dia lah yang sedang dipeluk.
Kemudian lelaki tadi mengambil pisau dan menancapkannya di tubuh pose tersebut
dan bagian yang ditusuk tersebut mengeluarkan air. Lagi, pria tersebut
menancapkan pisau tersebut terus menerus. Si perempuan beradegan bahwa dia lah
yang merasa kesakitan saat pria tersebut menusuk pose tersebut.
Wanita itu berjalan menghampiri pose yang masih mengucurkan air tersebut,
dibawahnya sedang duduk lelaki dan pria yang memakai topi. Kemudian wanita
tersebut menarik kotak yang berisi air, kemudian mengguyurkannya perlahan pada
pose tersebut dan lelaki dan pria tersebut basah oleh air guyuran itu. Si
wanita semakin menjadi-jadi dan semakin cepat mengguyurkan air tersebut sambil
gemetar tubuhnya.
Pemahaman
cerita:
Di pagi hari ada seorang wanita yang sedang menyapu teras rumahnya serta
senantiasa membersihkan pigura-pigura yang ada didalam rumahnya,setiap hari ia
melakukan pekerjaan itu hingga debu pun hafal akan rutinitasnya. Di waktu yang
bersamaan ia terdiam dengan membayangkan masalalu kelamnya ketika suaminya di
rebut oleh serdadu-serdadu bertopi panci (tentara). Ia hanya dapat mengenang
masalalu manis ketika bersama suaminya tersebut, kenangan tersebut adalah
ketiga pigura yang ia bersihkan setiap paginya, pigura yang tidak akan pernah
terusik dari tempatnya berada, dan akan menjadi saksi dari kisah masalalunya
Seperti itulah sebuah kenangan. Ia berusaha menghapus kenangan kelamnya
bagai mengguyurkan air agar debu-debu kesedihan itu hilang, namun masih tetap
sama, kenangan itu tak kunjung pergi meski ia terus mencoba menghapusnya.
Waktu berlalu, wanita itu sudah mulai nampak lemah, ia seperti orang yang
tak memiliki kekuatan untuk hidup, hanya satu yang ia inginkan, yaitu lupa atas
kenangan itu. Namun ia sama sekali tak mampu untuk melakukannya. Wanita
tersebut selalu berusaha tegar ketika anaknya bertanya perihal keberadaan
ayahnya yang ia sendiri tak tahu harus menjawab apa dan bagaimana cara
menjawabnya.
Di pagi berikutnya, wanita tersebut mulai lelah dengan kenangan yang selalu
menghantuinya, ia enggan membersihkan pigura-pigura yang biasa ia bersihkan di
setiap paginya. Sang anak pun kembali menanyakan keberadaan ayahnya, namun
tetap sama dengan sebelumnya, wanita tersebut tak dapat bercerita kepada sang
anak dimanakah ayahnya berada, maka anak tersebut memutuskan untuk pergi
meninggalkan sang wanita tersebut bersama dengan perempuan yang dipilihnya.
Namun ternyata pilihan untuk meninggalkan wanita itu ternyata salah, karena
perempuan yang dipilihnya tersebut juga tak mampu tuk bercerita kepadanya.
Setelah kepergian dari sang anak, wanita tersebut menanti kehadiran anak
lelaki yang masih belum menyadari bahwa wanita tersebut menunggunya, anak
lelaki tersebut hanya menyadari bahwa ada perempuan lain yang sudah ada didalam
hidupnya untuk membuatkannya sebuah kenangan. Namun pada akhirnya sang anak
mulai menyadari dan kembali kerumah sang wanita tersebut dengan membawa
pertanyaan serupa tentang keberadaan sang ayah. Wanita tersebut hanya dapat
menjelaskan bahwa kenangan adalah masalalu dari tiap-tiap insan, cara terbaik
dalam menyikapi kenangan itu sendiri adalah dengan ikhlas menerima kenangan
yang ada pada sisa hidupmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar