Selasa, 13 Oktober 2015

Mengancam Kenangan “Tulis apa yang kau lihat. Bukan apa yang kau pikirkan!”




Ada lima tokoh dalam adegan, ketiga tokoh saling bergantian menutup mata dan yang lainnya menjadi patung yang tertutupi oleh penutup plastik.
Salah seorang wanita berperan sebagai ibu, ia memegang sapu dan memukul-mukulkan sapu tersebut pada sebuah kotak yang terdapat di panggung.
Keempat pemain lainnya menggunakan jubah bermotif warna-warni yang kemudian asyik bermain-main, sedangkan wanita yang memegang sapu hanya duduk membelakanginya. Wanita itu berdiri lalu mondar-mandir sambil memegang tali dan berbicara padanya layaknya berbicara terhadap orang. Wanita itu kebingungan sambil mengepal-ngepalkan tangannya.
Keempat pemain bermain-main, mereka bermain loncat tali, kemudian si wanita berjalan mendekati mereka dan diam termenung sambil berdiri, mereka kemudian mengitari wanita tersebut sambil berteriak berucap yang membuat wanita itu semakin gelisah dan menutup telinganya.
Ada seorang pria yang berjalan membelakangi tokoh lain sambil memegang sebuah koper, dan kedua pemain lainnya,ada pula lelaki dan wanita yang sedang bergandengan tangan sambil berjalan membelakangi penonton. Si wanita tadi berlutut dan tangannya diikat oleh tangan pemain lain yang menggunakan jubah warna-warni.
Lelaki yang berjalan bersama perempuan itu kemudian menuju sebuah pose berbentuk tubuh seseorang sambil memeluk pose tersebut, si perempuan tadi berdiri diatas kotak sambil memerankan peran bahwa dia lah yang sedang dipeluk. Kemudian lelaki tadi mengambil pisau dan menancapkannya di tubuh pose tersebut dan bagian yang ditusuk tersebut mengeluarkan air. Lagi, pria tersebut menancapkan pisau tersebut terus menerus. Si perempuan beradegan bahwa dia lah yang merasa kesakitan saat pria tersebut menusuk pose tersebut.
Wanita itu berjalan menghampiri pose yang masih mengucurkan air tersebut, dibawahnya sedang duduk lelaki dan pria yang memakai topi. Kemudian wanita tersebut menarik kotak yang berisi air, kemudian mengguyurkannya perlahan pada pose tersebut dan lelaki dan pria tersebut basah oleh air guyuran itu. Si wanita semakin menjadi-jadi dan semakin cepat mengguyurkan air tersebut sambil gemetar tubuhnya.







Pemahaman cerita:
Di pagi hari ada seorang wanita yang sedang menyapu teras rumahnya serta senantiasa membersihkan pigura-pigura yang ada didalam rumahnya,setiap hari ia melakukan pekerjaan itu hingga debu pun hafal akan rutinitasnya. Di waktu yang bersamaan ia terdiam dengan membayangkan masalalu kelamnya ketika suaminya di rebut oleh serdadu-serdadu bertopi panci (tentara). Ia hanya dapat mengenang masalalu manis ketika bersama suaminya tersebut, kenangan tersebut adalah ketiga pigura yang ia bersihkan setiap paginya, pigura yang tidak akan pernah terusik dari tempatnya berada, dan akan menjadi saksi dari kisah masalalunya
Seperti itulah sebuah kenangan. Ia berusaha menghapus kenangan kelamnya bagai mengguyurkan air agar debu-debu kesedihan itu hilang, namun masih tetap sama, kenangan itu tak kunjung pergi meski ia terus mencoba menghapusnya.
Waktu berlalu, wanita itu sudah mulai nampak lemah, ia seperti orang yang tak memiliki kekuatan untuk hidup, hanya satu yang ia inginkan, yaitu lupa atas kenangan itu. Namun ia sama sekali tak mampu untuk melakukannya. Wanita tersebut selalu berusaha tegar ketika anaknya bertanya perihal keberadaan ayahnya yang ia sendiri tak tahu harus menjawab apa dan bagaimana cara menjawabnya.
Di pagi berikutnya, wanita tersebut mulai lelah dengan kenangan yang selalu menghantuinya, ia enggan membersihkan pigura-pigura yang biasa ia bersihkan di setiap paginya. Sang anak pun kembali menanyakan keberadaan ayahnya, namun tetap sama dengan sebelumnya, wanita tersebut tak dapat bercerita kepada sang anak dimanakah ayahnya berada, maka anak tersebut memutuskan untuk pergi meninggalkan sang wanita tersebut bersama dengan perempuan yang dipilihnya. Namun ternyata pilihan untuk meninggalkan wanita itu ternyata salah, karena perempuan yang dipilihnya tersebut juga tak mampu tuk bercerita kepadanya.
Setelah kepergian dari sang anak, wanita tersebut menanti kehadiran anak lelaki yang masih belum menyadari bahwa wanita tersebut menunggunya, anak lelaki tersebut hanya menyadari bahwa ada perempuan lain yang sudah ada didalam hidupnya untuk membuatkannya sebuah kenangan. Namun pada akhirnya sang anak mulai menyadari dan kembali kerumah sang wanita tersebut dengan membawa pertanyaan serupa tentang keberadaan sang ayah. Wanita tersebut hanya dapat menjelaskan bahwa kenangan adalah masalalu dari tiap-tiap insan, cara terbaik dalam menyikapi kenangan itu sendiri adalah dengan ikhlas menerima kenangan yang ada pada sisa hidupmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar